Selamat datang di Komunikasi Penyiaran Islam KPI C 2012

Selasa, 18 Juni 2013

ARTIKEL 3

Nama   : Imas Hayati Nufus
Nim     : 1112051000159
Kelas   : KPI II C
Tugas   : Artikel 3
LARANGAN BERBURUK SANGKA
Buruk sangka adalah menyangka seseorang berbuat kejelekan atau menganggap jelek tanpa adanya sebab yang jelas. Perbuatan seperti itu sangat dilarang oleh Allah SWT. Orang yang melakukannya berbarti telah berbuat dosa. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat al-Hujarat (49) ayat 12 yang artinya:
“Hai orang-orrang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesunggunya sebagian prasangka itu adalah dosa …… »
Apalagi kalau berburuk sangka tersebut terhadap masalah-masalah aqidah yang harus diyakini apa adanya. Buruk sangka dalam masalah ini adalah haram. Sebaliknya, berburuk sangka dalam masalah-masalah kehidupan agar memiliki semangat untuk menyelidikinya adalah dibolehkan.
Nabi menyatakan bahwa buruk sangka adalah sedusta-dustanya ucapan. Buruk sangka biasanya berasal dari diri sendiri. Hal itu sangat berbahaya, karena akan mengganggu hubungannya dengan orang yang dituduh jelek. Itulah sebabya berburuk sangka sangat berbahaya, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa buruk sangka lebih berbahaya daripada berbohong.
Bakar bin Abdullah al-Muzani berkata sebagaimana terdapat dalam biografinya dalam kitab Tahfizu at-Tahzib « Berhati-hatilah kamu terhadap perkataan yang sekalipun kamu benar, kamu tidak diberi pahala ; dan jika bersalah, kamu memikul dosa, yaitu berburuk sangka terhadap saudaramu ».
Dari pernyataan-pernyataan diatas telah sangat jelas, bahwa berburuk sangka kepada orang lain itu berdosa. Maka dari itu,  kita hendaknya tidak langsung mengambil sebuah kesimpulan dari apa yang orang lain katakan atau lakukan, karena itu akan menimbulkan sebuah perkiraan atau praduga yang belum tentu benar. Ini jelas berburuk sangka kepada orang lain.
Hendaknya kita berhati-hati dalam menafsirkan sebuah pekerjaan atau perkataan saudara kita, agar tidak akan menimbulkan buruk sangka.

ARTIKEL 3

NIRMA SUGIARTI
NIRMA_SUGIARTI@YAHOO.CO.ID
ARTIKEL III
LARANGAN BERBUAT DZALIM
 
            Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita akan bahaya doa orang yang teraniya,  agar kita tidak berlaku aniaya kepada orang lain, karena  doa mereka tidak terhijab dan akan dikabulkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala. Sekalipun mereka adalah para pelaku dosa besar, yang dibesarkan dari makanan-makanan haram. Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dikatakan, walaupun orang yang teraniaya itu adalah seorang kafir.
            Kezaliman telah diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala atas seluruh umat manusia. Apa pun agamanya. Allah Subhaanahu Wata’ala tidak meridhai tindakan zalim kepada orang-orang non muslim, sebagaimana Allah tidak ridha seorang muslim dizalimi.
Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun.” (QS. Yunus: 44).

Adapun firman Allah Subhaanahu Wata’ala, yang artinya, “Dan doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14). Berkaitan dengan permohonan mereka untuk dibebaskan dari api neraka di akhirat kelak. Adapun doa mereka untuk meminta pertolongan atau pembalasan dari orang-orang yang menganiaya mereka di dunia, tidak dinafikan oleh ayat tersebut.

            Terkadang, dengan niat yang mulia, untuk meninggikan agama Allah Subhaanahu Wata’ala, orang-orang yang bersemangat memperjuangkan Islam menggunakan cara-cara yang justru menimbulkan banyak pihak tak bersalah menjadi korban, harta maupun nyawa. Maka, hendaknya mereka takut akan doa-doa orang yang mereka zalimi. Karena doa mereka akan dikabulkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala, cepat atau lambat.
            Maka seorang muslim, tidak boleh merasa lelah dan jenuh dalam berdoa untuk meminta pertolongan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala karena cepat atau lambat doa itu pasti dikabulkan Allah.

ARTIKEL 2

NIRMA SUGIARTI
NIRMA-SUGIARTI@YAHOO.CO.ID
ARTIKEL II

PENGARUH BACAAN AL-QUR’AN TERHADAP OTAK
 
            Segala bentuk ibadah yang kita lakukan kepada Allah SWT. pasti mempunyai maksud dan manfaatnya. Contoh ibadah yang biasa kita lakukan adalah salat. Didalam salat terdapat gerakan yang tanpa kita sadari mengandung manfaat bagi fisik kita. Seperti halnya salat, membaca al-qur’an juga mendatangkan manfaat tersendiri bagi diri kita. Ibadah yang sederhana tetapi dapat berpengaruh terhadap daya otak kita. Banyak penelitian yang telah dilakukan para ahli terhadap manfaat membaca al-qur’an itu sendiri. Solusi dari Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang sudah mengakui manfaat dari membaca al-qur’an.
            "Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur'an...".
            Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur'an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur'an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur'an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
            Mahabenar Allah yang telah berfirman, "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat" (Q.S. 7: 204).
            Dengan mengetahui banyaknya manfaat dari membaca Al-Quran, hendaklah kita senantiasa menjadi hamba yang patuh dan taat dalam beribadah. Bukan hanya karena ibadah tetapi juga terapi bagi diri kita.

ARTIKEL 3


NAMA: SYIFA ISMALIA / syifais78@gmail.com
NIM: 1112051000084
KELAS: KPI 2C
ARTIKEL KE 3
Allah bersama orang-orang yang Sabar

 “Wahai orang-orang yang beriman . Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar “ (Qs Al-Baqarah :153)
 “Dan sesungguhnya akan kami beri kamu percobaan dengan sesuatu dari ketakutan dan kelaparan dari harta benda dan jiwa-jiwa dan buah buahan dan berilah khabar yang menyukakan kepada orang-orang yang bersabar” (Qs Al-Baqarah : 155)
“(yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata sesungguhnya kita ini dari Allah dan sesungguhnya kepadaNyalah kita semua akan kembali” (Qs Al-Baqarah : 156)
Sabar termasuk perbuatan terpuji. Sudah dijelaskan dari ayat tersebut, bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Jika kita merasa banyak masalah sesungguhnya Allah hanya menguji kita agar kita menjadi orang-orang yang sabar dan selalu mengingat Allah . Apabila Allah memberikan kita cobaan sesungguhnya Allah tau bahwa hanya kita yang kuat diberi cobaan itu sesuai dengan pepatah yang mengatakan “Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya melebihi kemampuan umatnya tersebut” . dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, kita harus banyak bersabar.
“Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian” (Qs. Muhammad : 31)
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Qs. Azzumar : 10)
Orang-orang bersabar akan mendapat pahala dari Allah, jadi apabila kita diberikan cobaan dari Allah jangan takut dan jangan menghindar . Kita harus melewati masalah  itu dan harus yakin kita dapat menyelesaikan cobaan dari Allah.  Karena bersabar adalah salah satu ketaqwaan kita pada Allah .

Semoga Allah memberi kita kekuatan, kesabaran dan kesanggupan serta memudahkan kita untuk bisa menjadi hamba Allah , kekasih Allah dan khalifahnya yaitu wakil Allah di muka bumi. Dan menjadi hamba Allah yang selalu bersabar . Amin


ARTIKEL 3


Anggita Maya Susanti
anggitamayasusanti@rocketmail.com
Artikel 3
KPI 2C 
Islam, Iman dan Ihsan sebagai Trilogi Ajaran Illahi
Nurcholis Madjid, Konstektualisasi Doktrin dalam Islam, Bag. Dimensi Isoteris Ibadah, diterbitkan oleh Yayasan Paramadina dengan editor Edi Munawar Rachman
Di antara perbendaharaan kata dalam agama Islam ialah iman, Islam dan ihsan. Berdasarkan sebuah hadits yang terkenal, ketiga istilah itu memberi umat Islam (Sunni) ide tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup. Dalam penglihatan itu terkesan adanya semacam kompartementalisasi antara pengertian masing-masing istilah itu, seolah-olah setiap satu dari ketiga noktah itu dapat dipahami secara tersendiri, dapat bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.
Sudah tentu hakikatnya tidaklah demikian. Setiap pemeluk Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam (al-Islam) tidak absah tanpa iman (al-iman), dan iman tidak sempurna tanpa ihsan (al-ihsan). Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin tanpa inisial Islam. Dalam telaah lebih lanjut oleh para ahli, ternyata pengertian antara ketiga istilah itu terkait satu dengan yang lain, bahkan tumpang tindih sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat Islam dan ihsan, dalam Islam terdapat iman dan ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari sudut pengertian inilah kita melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.
Trilogi itu telah mendapatkan ekspresinya dalam banyak segi budaya Islam. Arsitektur masjid Indonesia yang banyak diilhami oleh, dan pinjam dari, gaya arsitektur kuil Hindu, mengenal adanya seni arsitektur atap bertingkat tiga. Seni arsitektur itu sering ditafsirkan kembali sebagai lambang tiga jenjang perkembangan penghayatan keagamaan manusia, yaitu tingkat dasar atau permulaan (purwa), tingkat menengah (madya) dan tingkat akhir yang maju dan tinggi (wusana). Dan ini dianggap sejajar dengan jenjang vertikal Islam, iman, dan ihsan, selain juga ada tafsir kesejajarannya dengan syari'at, thariqat dan ma'rifat. Dalam bahasa simbolisme, interpretasi itu hanya berarti penguatan pada apa yang secara laten telah ada dalam masyarakat.
Berikut ini kita akan mencoba, berdasarkan pembahasan para ulama, apa pengertian ketiga istilah itu dan bagaimana wujudnya dalam hidup keagamaan seorang pemeluk Islam. Diharapkan bahwa dengan memahami lebih baik pengertian istilah-istilah yang amat penting itu kemampuan kita menangkap makna luhur agama dan pesan-pesan sucinya dapat ditingkatkan.
Pembahasan secara berurutan pengertian istilah-istilah di atas - pertama Islam, kemudian iman dan akhirnya ihsan - dilakukan tanpa harus dipahami sebagai pembuatan kategori-kategori yang terpisah - sebagaimana sudah diisyaratkan - melainkan karena keperluan untuk memudahkan pendekatan analitis belaka. Dan di akhir pembahasan ini kita akan mencoba melihat relevansi nilai-nilai keagamaan dari iman, Islam dan ihsan itu bagi hidup modern, dengan mengikuti pembahasan oleh seorang ahli psikologi yang sekaligus seorang pemeluk Islam yang percaya pada agamanya dan mampu menerangkan bentuk-bentuk pengalaman keagamaan Islam.

Artikel Pengalaman Beriman, Berikhsan dan Berislam


Zoupi Dwi Raka
Email : zoupidwiraka@gmail.com
ARTIKEL (2) KPI 2C
INDAHNYA SABAR

Kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian sebenarnya memberi pelajaran kepada manusia agar pandai bersikap sabar. Pada sebagian orang, sabar mungkin sulit dilakukan karena sabar sangat berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan nafsu amarahnya, berarti ia belum menerapkan sabar dalam kehidupannya.

Pada dasarnya sifat sabar dibagi dalam tiga kategori, yaitu:
  1. Sabar dalam menghadapi cobaan.
  2. Sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah.
  3. Sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Pertama, sabar dalam menghadapi cobaan atau ujian (musibah). Setiap cobaan yang diberikan Allah merupakan bentuk cinta kasih Allah kepada hamba-Nya. Setiap cobaan yang datang kepada kita membuka pintu pahala bagi kita. Dan dengan sabar menghadapi setiap cobaan yang datang maka kita akan dengan mudah memperoleh pahala yang telah dijanjikan Allah. Namun bila kita tidak bisa sabar maka yang kita peroleh hanyalah cobaan tersebut tanpa ada pahala yang menyertainya. Hendaklah kita selalu ingat bahwa Allah Maha Mengetahui akan kemampuan setiap makhluk-Nya. Untuk itu Allah tidak akan memberi cobaan kepada seseorang di luar kemampuan orang tersebut. Orang yang cerdas akan selalu berjiwa besar, berpikiran lapang, berjiwa tenang dan tahan menerima cobaan. Mereka terus berusaha dan berpasrah diri pada Allah. Allah berjanji bahwasanya orang yang sabar dalam menghadapi musibah maka pada hari kiamat nanti Allah akan memberikan kepadanya seratus derajat di surga dan jarak setiap derajat adalah seluas antara Arasy dan bumi. Allah berjanji akan memberikan jalan keluar bagi orang yang sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan kepadanya. Dalam hal ini Allah swt. berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ

Artinya: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2-3).

Maksudnya, segala ujian dan cobaan dalam hidup akan berakhir dengan mendapatkan hasil yang terbaik bagi seseorang yang memiliki kesabaran, dan ketakwaan yang teguh kepada Allah.

Kedua, sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Sebagai orang Islam kita memang mempunyai kewajiban menjalankan perintah-perintah Allah. Kita harus sadar bahwa di dalam setiap kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepada hamba-hamba-Nya terdapat hikmah yang baik bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain. Oleh karena itu, jika kita menjalankan segala apapun perintah-perintah Allah dengan sabar maka kita dapat merasakan nikmat sabar itu sendiri dan setiap ibadah yang kita lakukan akan terasa lebih indah. Allah juga berjanji bahwasanya orang yang sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah maka pada hari kiamat nanti Allah akan memberikan kepadanya tiga ratus derajat di surga dan jarak setiap derajat adalah seluas antara langit dan bumi. Sabar dan taat dalam menjalankan perintah Allah terdapat dalam firman-Nya:

اِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ اِنَّهُ اَوَّابٌ

Artinya: “Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar, dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shad: 44).

Ketiga, sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah. Akan tetapi jika kita menjauhi hal-hal yang dilarang Allah dengan berat hati maka hal tersebut hanya akan menjadi beban bagi diri kita. Kita seharusnya juga sadar bahwa hal apapun yang dilarang Allah pasti hal tersebut membawa akibat buruk bagi kita jika tidak menjauhinya. Allah juga berjanji bahwasanya orang yang sabar dalam menjauhi dan meninggalkan larangan Allah maka pada hari kiamat nanti Allah akan memberikan kepadanya enam ratus derajat di surga dan jarak setiap derajat adalah seluas antara langit ketujuh (langit yang tertinggi) dan bumi yang ketujuh (bumi yang terbawah). Dalam firman-Nya disebutkan:

وَ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلاُمُوْرِ

Artinya: “Jika kamu bersabar dan bertakwa maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. ali-Imran: 186).

Allah swt. juga memberi tahu kita agar berhati-hati dan tetap bertakwa menanamkan kesabaran dalam hati di saat menghadapi cobaan karena cobaan yang diberikan Allah bukan hanya berupa musibah, harta yang dimiliki juga merupakan cobaan. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

لَتُبْلَوُنَّ فِى اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَفُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا اَذَى كَثِيْرًا

Artinya: “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik.” (QS. ali-Imran: 186).

Dari ketiga macam sabar yang telah diuraikan di atas, yang paling dikenal dalam lingkungan kita sehari-hari adalah sabar dalam menghadapi cobaan (musibah).

Untuk itu, marilah kita membiasakan diri untuk berbuat mulia, membuang jauh-jauh sifat yang hina dan tercela. Mari kita menghiasi pribadi kita dengan watak kemanusiaan yang sempurna, dengan amal perbuatan yang berguna dan bertindaklah dengan sikap ksatria. Semuanya itu dapat kita lakukan jika kita selalu dekat dan memohon petunjuk dari Allah swt. karena hidayah Allah itu akan mendorong diri untuk bermental baja, tidak mudah menyerah, sanggup melakukan hal-hal yang positif dan mampu meninggalkan hal-hal yang negatif, serta sabar dalam menghadapi segala musibah. Sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 153).

Tanam dan pupuklah sifat sabar yang ada dalam diri kita karena dengan kesabaran, kebahagiaan hidup akan dapat kita capai. Dan selalu ingatlah kepada Allah karena Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar yang selalu ingat kepada-Nya. Sabar juga akan mengangkat derajat kemanusiaan menuju taraf yang lebih tinggi.


Jumat, 14 Juni 2013

artikel 3

Nama : Humaira
Email & Handphone : humae.rara@gmail.com / 08567723367
Artikel ke 3KPI II/C 2013

Jihad Melawan Syetan

Barang siapa yang menginginkan agar syetan tidak mempunyai peluang pada dirinya, hendaknya ia:
·         Meluruskan iman,
·         Tawakkal dan
·         Ubudiyah nya, semata karena Allah swt. di atas hamparan kefakiran,
·         Bersegera serta mohon perlindungan kepada Allah swt.
Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya syetan itu tidak ada peluang (menggoda) baginya, terhadap orang-orang yang beriman, dan kepada orang-orang yang senantiasa tawakkal kepada Tuhannya.
            “Dan jika kamu ditimpa godaan syetan, maka berlindunglah kepada Allah.
Sedangkan pelurusan iman itu dilakukan melalui:
·         Syukur terhadap nikmat-nikmatNya,
·         Sabar terhadap bencana,
·         Dan ridha terhadap qadha’.
Keabsahan tawakkal dengan jalan:
·         Menjauhi hawa nafsu,
·         Melupakan makhluk, dan
·         Bergantung pada Yang Maha Diraja Yang Benar serta
·         Melanggengkan dzikir.
Apabila ada rintangan yang menghalangimu untuk sampai kepada Allah, maka tetaplah dalam keteguhan. Allah swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila engkau sekalian bertemu dengan kelompok (musuh), maka tetaplah kokoh, dan ingatlah kamu sekalian kepada Allah sebanyak-banyaknya, agar kamu sekalian berbahagia.
Pelurusan ubudiyah melalui:
·         Pelanggengan kefakiran (terus-menerus merasa fakir kepada Allah),
·         Merasa lemah, dan
·         Hina di hadapan Allah.
Lawan ubudiyah adalah Rububiyah, lalu apa fungsi Rububiyah bagimu dan apa yang seharusnya dilakukan bagi Rububiyah? Maka, teguhlah dengan sifat-sifatmu.
Ucapkanlah dari hamparan kefakiran hakiki: “Wahai Yang Maha Kaya, kepada siapa lagi bagi si fakir selain kepadaMu.
Ucapkanlah dari hamparan kelemahan: “Wahai Yang Maha Kuasa, kepada siapa lagi bagi si lemah ini selain kepadaMu.
Sedangkan dari hamparan kehinaan ucapkanlah: “Wahai Dzat Yang Maha Mulia, kepada siapa lagi bagi orang yang hina ini selain kepadaMu.
Engkau akan menemukan ijabah, seakan-akan ijabah itu mengikuti tanganmu. Allah swt. berfirman: “Mohon pertolonganlah kamu sekalian kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Siapa yang menetapi bumi syahwat dan masih mengikuti selera nafsunya, sementara dirinya tidak ditolong oleh Tajalli-Nya, dan terjauhkan dari tajalli, maka ubudiyahnya pada dua perkara:
1.      Mengetahui nikmat-nikmat Allah swt. atas karunia yang diberikan-Nya berupa iman dan tauhid.
2.      Senantiasa berkomitmen dan membutuhkan Allah.
Jika dua hal tersebut diabaikan, maka kesengsaraan menjadi miliknya, kejauhan menjadi kelazimannya, dan hanya kepada Allah-lah tempat berlindungnya. Kerangkeng syetan itu ada empat:
1.      Anda duduk sambil berfikir tentang faktor yang mendekatkan kepada Allah, lalu Anda mengamalkannya;
2.      Anda berfikir tentang faktor yang menjauhkan diri Anda kepada Allah, lalu Anda menjauhi faktor tersebut;
3.      Anda duduk berfikir tentang apa (amal) yang telah Anda lakukan, lalu Anda bersyukur dan memohon ampunan;
4.      Anda duduk berfikir tentang dosa yang berlalu, lantas Anda memohon ampunan dan bersyukur.
Apabila Anda ingin mengalahkan musuh Anda, maka Anda harus berteguh dengan iman dan tawakkal, ubudiyah yang benar dan memohon perlindungan Allah dari syetan.